Di senja ini kebahagian masih terlihat di wajah Sahria. Meski ia harus hidup sekuat tenaga bersama emik dan adik kecilnya. Hidup jika tidak di sukuri maka tidak berarti apa-apa, begitu ucapnya setiap di tanya temen-temen sekolah
Sahria memang bercita-cita tinggi. Meski pekerjan emik tak mencukupi kebutuhan sekolah, ia rela mengalah tidak jajan disekolah. Uang yang dikasih emik ia buat tabung buat masa depan nanti.
Sekolah dan bekerja bagi Sahria tidak ada bedanya. Usai sekolah ia pergi membantu emik ke rumah tetangga mengambil pohon kelapa untuk di buat minyak goreng. Hidup di desa memang tidak terlalu susah karena orang-orang mempercayai gotong-royong, orang-orang mempercayai hidup bertetangga. Tetapi bukan berarti hidup kita tergantung mereka, tidak!.itu namanya orang malas. Malas dibenci agama dan akan sengsara.
”nak, sebaiknya kamu belajar saja jangan ikut emik. Aku mampu ko’ bekerja membiayai hidup kamu. Sudah sana?”cegah ibu tatkala Sahria ganti baju ingin pergi membantu.
“ngak apa-apa ko’ mik.belajarku ngak terganggu sama sekali. Aku ingin berbakti dengan cara membantu, boleh ’kan ?”. ia memang tak pernah lupa membawa buku kemana aja, setiap ada kesempatan ia luangkan sejenak membaca. Karena menurutnya balajar tidak harus di rumah tetapi dimana saja ada waktu. Sahria di samping semangat bekerja namun ia rajin membaca, mengkin benar kalau orang rajin baca suatu saat akan pandai dan lebih luas wawasannya.
Sebenarnya orang tua tidak tega melihat Sahria bekerja karena ia masih kecil dan tak pantas di bebani pekerjaan, akan menjadi beban. Tapi ibu merasa bangga selalu berada disampingnya terus menemani, jadi meski ibu lelah ia tidak pernah putus asa, justru lebih semanngat.
Ibu ambil titipan buah kelapa yang menjadi pekerjannya sehari-hari. Ia tempas, lalu ia kelola jadi minyak goreng. Upah dari Hasil pekerjaannya itu setiap hari RP 5000 kadang tidak pasti, kalau buah kelapanya lagi banyak kadang di kasih Rp 10.000. kalau di pikir-pikir uang 5000 untuk belanja sangat tidak mencukupi manalagi jajan Sahria terutama adik kecil yang masih Teka A.
Rizeki itu urusan yang kuasa di langit yang penting hambanya berusaha. Bayangkan setiap hari ada saja pesanan dari tetangga untuk dibuatin minyak goreng, apalagi misalkan ada perkawinan sampai tiga gerobak bahkan lebih. Sahria biasanya membantu menyiapkan kayu, membantu memeras, menjaga kelolaan sampai jadi minyak.
”Ria(pangilan akrabnya), cita-cita kamu nanti apa sih ?”tanya imamah temen akrab di kelas.”ko’ kamu kelihtan semangat sekolah, pinter lagi!”puji Iim
”emang aku keliatan semangat apa..?”tanya Ria pura-pura.”eh kamu.aku nanya malah kagak ngerasa sih ”Iim makin geli ama jawaban Ria itu.”ngak aku serius banget nih, Ap sih yang ngebuat kamu semangat terus plis ceritain dong,ya...ya”paksa Iim memohon di depannya. Melihat Iim serius banget. Ria pun bercerita ama temen-temen akrabnya itu.
”sebenarnya sih hidup ini aku belajar dari emik, bayangkan ia hidup harus menanggung nasib kesana-kemari. itu ’kan cobaan tuhan apa emang keuargaku tabah. Jadi ngapain aku harus bingung dengan keadaan begini. Tapi bagi aku semangat terus meski harus berperang kesana-kemari ”lagian kalau hidup tidak dijani apa adanya berarti kita magk sukses, ya ngak!. Mumpung masih anak-anak kata ibu harus rajin belajar, semangat terus jangan sampai luntur kejar terus cita-cita meski harus kebintang.
Iim sangat kagum apa yang di jelaskan Ria barusan, dirinya harus semangat belajar apalagi masalah harta mama dan papaku kelebihan. Kalau kita lalai dan menyia-nyiakan hari ini pasti besok tidak akan sukses. Teman makasih ya aku pengen seperti kamu hidup semangat tak pantang menyerah. Imm berdiri membayangi hari esok kedepan jendela’pokoknya mulai hari ini Iim tidak boleh menyia-nyiakan waktu.
”yuk kita keluar sebentar ”ajak imm.”mau kemana sih”tanya Ria memegang tangan imm yang menyeret keluar.”udah. Tenang aja entar tak jelasin.oke”Riapun akhirnya mengalah nunut kemana ia akan ibawa temennya ini, sampai di warung kecil tanpa tanya-tanyadulu ia mengambil camelan, ia bayar. Nah kamu baru tahu ’kan kalau aku pengen beli-beli jajan. Makan yuk, ajak Iim. Ayo dong makan ya.
Bel berdering pertanda masuk. Anak-anak akhrnya masuk kelas.
Tabungan Sahria ternyata sudah lumayan banyak. Kemaren Om yang dari jawa datang ke kampung. Menurut cerita emik adik kandungnya itu sudah lama merantau ke jawa dan kawin ama tante kebetulan temen sekerjanya, Ompun menetap di jawa. Omku lumayan orang berada sekarang. Kebetulan ia pulang kangen ama emikku sekalian pengen jenguk makam eyang. Selama satu minggu Om di kampung tidak bisa lama-lama karena harus ngurus pekerjaannya dijawa. Aku cerita ama Om kalau aku pengen sekolah di jawa nanti, aku pengen nabung yang banyak dulu untuk persiapan. ternyata ketika Omku pamitan tabunganku di isi duit yang banyak, aku sangat bangga banget tabungan sudah bertambah banyak.
Banggaku ini ingin rasanya aku ceritain ama Iim tapi aku takut dibilang pamer, lagian imm ’kan sudah kaya, paling tidak ia akan ketawa aja ngedengar ceritaku. Kutahan cerita ini dalam penak ini.
”Ria, sekarang aku udah mulai tabung juga ne. Ya aku nyontoh kamu. Meski papaku kaya aku ngak mao boros. ’kan kata mama kaya itu cobaan siapa tahu nanti sore papaku bangkrot, ya perusahaan papa lagi gulung tikar gitu”curhat imm. Ria ngak nyangka kalau imm jadi gini padahal dirinya ngak pernah ngajak, palagi pernah ceramah, perasaanku malah imm yang sering ngajak aku cerita banyak tentang aku dan masa depan dari anak kelapa
”kenapa emik ngak pernah cerita ke aku tentang papa sih”tiba-tiba Sahria bertanya soal papa yang emang ngak pernah ibu ceritakan selama hidup. Apa bapakku benar meninggal atau masih hidup. Meki aku selalu bareng ibu kemana-mana, ngebantu kesana-kemari atau jangan-jangan papa lagi di deket lingkungan kita lagi mantau dan keberadaannya untuk dirahasiakan. Sahria sering bertanya-tanya soal itu sekarang. Ibu hanya diam tak menjawab apa-apa, kadang cuman tersenyum. Kadang hanya jawab oh,tentang papamu, nanti aja ya kamu masih kecil, nanti pasti emik ceritakan semuanya. Yang penting sekarang kamu sekolah dulu, rajin belajar.
Keberadaan papanya ini selalu meresahkan bahkan membuat iri pada temen-temen yang setiap saat diantar papanya, cerita-cerita mengenai keinginannya pada sesuatu di toko kecil. Ya tuhan andai aku lagi bereng papa sekarang aku pasti cerita mengenai tabunganku, pikiran Ria melayang tinggi bersama papanya. Ah tidak mungkin aku tidak punyak papa sekarang, segera ia cegah khayalannya itu.
”he...ternyata lagi ngelamun”gertak imm.emang ngelamun apaan sih ko’ aku lihat mulai tadi diam aja.”ngak ada apa-apa ko’”jawab Ria,ah kamu ngageten aku segala. gimana tabungan kamu udah banyak, tanya Ria menghilangkan topik ngelamunnya itu. karena ia malu mau cerita tentang papanya ke imm
”oh iya aku hampir lupa ne. Ne ada undangan buat ulang tahunku besok, hadir ya plis..”imm menyodorkan sebuah kertas .”insyallah aku usahain”.
***
Sahria kini sudah melanjutkan SMP sedang temennya imm melanjutkan ke jakarta, dia tinggal di rumahnya sendiri di sana karena papanya seorang pengusaha di jakarta. Ria memang tidak tertarik sekolah di jakarta ia lebih senang deket emik, ngebantu meringankan pekerjaan ibunya setiap hari. Tiap hari membantu orang tua, sekalian nabung untuk masa depan nanti. Awal berteman dengan temen baru sangat kaku. Takut salah tingkah, menjaga perasaan. Ria ayo gabung yuk temenan kita, ajak Rini mendekatiku akhirnya aku kenalan dengan kelompok Rini.
” Ria aku boleh ngak ikut kamu sekarang. Ria diam tak menajawab apa-apa. Boleh kan. Udah kamu jangan pikir, aku tau kok kamu pasti ngelarangku ikut karena rumah kamu jelek ’kan, karena kamu miskin. Itu kan yang sudah dipikirin sekarang, tebak Rini. Oh ngak kamu boleh ikut aku sekaarang. Nah gitu dong. Yuk naik di belakang. Suruh Rini naik boncengam dibelakngnya. Sepeda rini segera melaju menuju rumahnya.
”Assalamualaikum, emik aku datang. Rini mulai kagum dengan etika Sahria, ia tak lupa membudayakan salam, sangat tatakrama pada orang tua.
Waalaikum salam, eh emik baru selesai meres minyak di dapur. Minta maaf ya neng ibu mulai tadi ngak bukain pintu.
”ngak papa ko’ bu. Munngkin aku yang minta maaf karna ganggu. Udah masuk kedalam dulu, ajak ibu Ria.
”ya begini neng rumah nak Ria. Kumu, sudah reot. Sambil menyuruh makan suguhan yang baru datang. Silahkan neng. Makasih bu.
Sahria tidak pernah patah semangat hanya gara kehidupan yang sudah di gariskan tuhan. Yang penting berusaha, pasti tuhan akan memberikan jalan. Berjalan kesekolah bukan kendala untuk bolos. ”kalau aku berjalan berarti aku belum punyak rezeki membeli sepeda. Justru aku lebih semangat. Ia berusaha sabar menjalani hidup. Terkadang di sekolah masih saja ada yang mengejek anak yang tak tau kemana bapaknya. Ia tak mau peduli masalah itu yang penting ia sekolah sama dengan mereka.
***
Tiga tahun kemudian, Sahria tamat sekolah. Perpisahan kemarin di sekolah adalah pertemuan terakhir kalinya. Seluruh murid yang ada di ruanagan tak kuasa menahan tangis ingin berpisah, melepas air mata dengan para guru. ”Terima kasih guru-guruku. ”Semoga ilmumu beramamfaat. Sahria tak kuat menahan tangis saat memeluk Rini dan teman akrabnya selama sekolah di SMP ini.
Teman-teman akrabnya melanjutkan SMA kejakarta, sebagian di Surabaya. Sahria tetap memutuskan sekolah di kampung sendiri, ia ingin membantu emik di rumah. Emikku sendiRian, kalau ada apa-apa siapa yang akan menolong. Sebantar lagi adik sekolah SMP juga.
” nak kamu sudah remaja sekarang. Sesuai janjiku, emik akan memberitahukan siapa sebenarnya kamu, dan siapa bapak kamu. Ria kaget saat ucapan emik tentang bapaknya.
” ya sekarang sudah waktunya akan aku buka terang-terangan.
”maksud emik?”tanya Ria tak paham kata-kata yang di maksudnya.
”untuk sekarang sebaiknya kamu malanjutkan sekolah ke jakaarta saja” suruh emik ,ia memastikan ucapannya itu pada Ria.
”memangnya ada apa emik di jakarta. Lalu emik di sini bagaimana?
”sudah kamu percayaa saja sama emik. Besok om Burhan akan mengantar kamu ke Jakaarta. Dimana kamu akan sekolah, dimana kamu akan bertempat tinggal. Sekarang sudah malam sebaiknya kita istirahat.
”enggak aku ngak bisa ninggalin emik sendiRian. Ria menolak perintah emik ini. Emik kemabali berdalih, ’kan ada adik kamu disini yang akan menemani emik. Tapi aku benar ngak bisa ninggalin emik begitu aja.
Pagi mentari muncul dari arah barat menyapa tanaman di muka. Ia tak tak pernah ingkar menyepakai janjinya. Pagi itu juga emik mempersiapkan baju-baju Ria yanga akan di bawa hari ini. Om burhan datang, gimana sudah siap, Tanya om. Ria tak kuasa menahan air matanya ia benar-benar harus ke jakarta waktu ini juga tanpa di temanai emik. Pokoknya aku ngak mau om. Cegah rini setelah om mengajak Ria berangkat. Kenapa Ria, ayuk kita berangkat bujuk burhan”ini sudah jam 8 lewat nanti kita kemaleman nyampek disana.om burhan tak henti-henti membujuk keponaannya itu. pokoknya aku ngak mau om.
”kecuali ibu juga ikut kejakarta sekarang. Ria tiba-tiba memberi syarat hari ini. Mendengar ucapan itu emik juga om burhan berhenti memaksa Ria. Mereka diam, saling menatap wajah kakak saudara perempuanya itu. Iya sebaiknya perkataan Ria ini juga di ikuti, kata om membenakan supaya kakanya ikut kejakarta hari ini.
Setelah lama berpikir panjang akhinya emik mengiyakan syarat ananya bersama-sama ke jakarta hari ini, demi kepastian atas apa yang di beritahukan kapada anaknya.mereka berangkat pukung 9 lebih 3 menit.
Sampai di jakarta. Ia langsaung menuju alamat rumah dimana orang yang ia maksud tinggal di JL gatot subroto no 34 Jakarta, alamat itu ia kasihkan kepada sopir. Mobil berhenti tepat di jl gatot subroto no 34. ini alamat yang ibu maksud, sopir mempersialhkan. Makasih pak. Sama-sama bu.
”Ibu memandangi gedung-gedung menjulang di depannya. Om burhan memencet bel untuk masuk ke rumah besar itu. Berapa menit kemudian orang perpakaian putih muncul. Sedang cari siapa pak. Bapak ini siapa, tanya satpam kepada om Burhan. Bapak Suptiyadi Nogroho kuncoro ada ya bapak. Oh ada kebetulan dia tidak ngantor malam ini.jawab satpam tersebut, silahkan masuk, monggo kedalam tak antarkan. Setelah agak lama mutar-mutar akhirnya sampai dan......
Tubuh gagah berdiri memandangi lukisan dinding di gedung rumah besar itu. Tersentak bapak seketika melihat tamu datang yang tak asing, sinta.........,kamu...kenapa...dan dua perempuan ini siapa sinta......bapak Suptiyadi Nogroho kuncoro kaget. Ia Menyangkah dia anak kandungnya. Dia ’kan anak kita sinta.....” bu sinta hanya diam tak menjawab apa-apa. Ia masih menyimpan kekecewaan pada mantan suaminya itu. Kenapa diam kalian ayo ngomong sama aku mereka siapa dik burhan, dik sinta..ayo ngomong, pasti mereka Sahria Nogroho dan dia... anak kita kan’ iya kan.
”kedatanganku sesuai permintaanmu dulu’ akan mengembalikan Sahria kepadamu, ucapan emik membuat Sahria bingung. Dulu kau meninggalkan aku setelah mengandung benih anakmu yang kedua bajingan. Kamu lelaki yang jahat Nogroho, ibu mengeluakan kekesalannya sampai puas. Sekarang terserah kalian yang penting aku tidak punyak tanggung jawab. Terimakasih. Ibu sinta dan om beserta sinta Nogroro bergegas dari rumah itu. Emik jangan tingalkan aku. Ria mengjar mereka sampai di depan pintu begitupun Nugroho. Tunggu...tunggu. om burhan, ibu sinta menghentikan langkahnya. Kalian salah menilaiku. Sebaiknya aku jelaskan dulu kenapa aku meninggal kalaian semua.
“aku memang salah kepada kalian. Tapi tentang perkawinanku sama linda belum jadi karna linda tidak mau dan ia meninggal akibat tabrakan mobil di Singapore. Dan perusahaanku, rumah ini pembeRian Bos kakak linda dengan Cuma-cuma karena tidak ada keluarga yang bisa di wariskannya.
”terserah kalian yang penting apa yang aku ucapkan benar adanya. Dan bisa kalian buktikan. Tolong kembalilah bersamaku sinta, aku sangat mencintai kamu, tolong sinta.
”emik, om, adik ”Ria memohon untuk kembali bersama bapak lagi. Emik.om burhan boleh benci pada bapak tapi tolong besarkan hati kami, tolong emik, om. Aku ingin bersama keluarga emik dan bapak. Tolong besarkan hati kami seperti teman-teman Ria. Akhirnya sinta memharbur kepelukan bapak ia tak kuasa menahan tangis. Om merasa bahagia karena emik tidak menjanda lagi.
Kami hidup bahagia bersama keluarga, bapak Suptiyadi Nogroho kuncoro, emik sinta, adik Sinta Nogroho. Menetap selamanya di jakarta sampai aku lulus kuliah kedokteran bersama adik Sinta Nogroho di Jepang. Aku Berjumpa dengan temen-temen kampungku di kota yang sama ini. Mereka sama-sama sukses sekarang!
05-05-10
Samsul arifin; Cerpenis tinggal di Kangean Saobi sumenep

Tidak ada komentar:
Posting Komentar