POLO Imigran
Malam meranjak mengelilingi sungai perkampungan diman aku berdogeng bersama sahabat lama. Ifan malam itu menyimpan segudang cerita dari negara malasyia. Sayang cerita ini tak pernah di bukukan oleh pendengar ruangan. Di kampungku pemuda banyak bercita-cita negeri jiran, melihat desa bergelantungan cagar emas. Katanya ini hasil dari tulan rusukku. Ifan sangat lama bercerita. Tak terasa dari sekian cerita yang di keuarkan kongko’ ayam betina mulai berkotak-kotak seakan ia menunjukkan kebenciannya sendiri dengan cerita yang di aami pekerja kasar di luar negeri.
”bang, kemana emik ”tiba-tiba suara muncul di belakang telingaku. Cerita menjadi terpotong. Aku dan ifan menoleh ternyata adik kecilku, aku dekati ia. Malam tak terlalu dingin. Bang mana emikku, entah kenapa tiba-tiba adik selalu berseru tentang ibu yangsudah lima tahun lebih pergi meninggalkan aku dan adik ke jiran. Ia menangis karena tak ada jawaban dari aku. Adik berlari sekuat tenaga ke tembok hingga menghilang di sudut rumah kumuh. Ansugn akubuntuti kemana larinya, sepertinya dia menyendiri di bawah atap kandang.
”dik ayo puang, ini masih malam”ajakku bohong biar ia pulang. Kata teman abang kemarin disini ada maling mencuri ayam. Aku menakut-nakuti supaya ia cepat pulang kerumah . temenkuifan membantu mengajak adik puang, udah yangpenting tidaktanya itu lagi” terpaksa kamipun menunggu kapan adik mau diajak pulang.
”fan, apa benar emikku mati di sana karena disiksa majikannya”. Ifan diam. Ia hanya menganggukkan kepala kedua kalinya. Kenapa kau bisa selamat, tanyaku kembali ingin yakin.”aku ini laki-laki tidak jadi pembantu, mangkanya bisa melarikan diri lewat kalimantan”kalau perempuan kan kadang diperkosa, disiram, bahkan dibutuh. Kaau disana untuk rang indnesia sama dengan bintang liar. Warga laki-laki saj kadang di tipu.
Kalau hidup di negeri orang itu kita harus berjuang sendiri, kapan kita disiksa itu artinya kita akan mati. Tidak ada yang mau peduli meski negara ini kaya karna aku, kata ifan sedih. Terakhir siksaanku waktu disiram timah aku baru bisa melawan dan aku terpaksa membunuh bosku. Usai peristiwa itu aku sudah berjanji sama ibu aku tak mau lagi bekerja kenegara barat. Aku ini ’kan hanya motor pemerintah yang bukan digaji tanpi di gaji kayak ada cerita orang miskin menggaji orang kaya. Aku semakin benci melihat negri ini,coba bayangkan aku dan temen di punguti pajak secara iklas tapi di korupsi besar-besaran.
Kalau soal duit di negara kita mah aktornya, tapi kalau kepedulian hanya sebatas bibir antar pers dan lembaga Ham serta lembaga taikucing itu, coba bayangkan mana ada yang peduli. Wong aparata sendiri konflik melulu, mereka cari kesalamatan sendiri . kalau ada yang masih peduli kita harus tandai berarti mereka akan naik pangkat,atau baru saja di angkat mak president. Tetapi habis tiga bulan sampai lima bulan mereka akan cuci tangan. Paling sibuk mengorek-ngorek kertas berapa gunung anggaran perut aparat.
Pagi ternyata menyapaku, tapi adik masih tak mau pulang. Terpaksa ia kurangkul kuangkat bareng ifan ku bawa pulang .
”aku ngak mau. Aku gak mau......”
****
Kebahagian musim hujan terasa sangat indah bagi anak kecil di desa terutama orang tua setengah petani ladang setengah laut. banyak saudraku pulang dari negeri tetangga untuk menikmati musim hujan, disamping mereka bertani meski tidak berhasil di musim itu,minimal setelah di tinggal ke malasyia keluarga di rumah tidak repot mikirin beras apalagi tengkar gara-gara isi pulsa yang di habiskan. Di musim sakit(biasanya anak kecil sering sakit-sakitan)bercampur aduk dari merauke ke angkasa luar negeri. Meski kaum perempuan desa memproklamasikan kecantikannya di rumah, tetapi akan lain lagi cerita saudaraku dari negeri jiran malasyia.
Di dusunku ada budaya aneh terus, ketika ditinggal suami pergi kemalasyia perempuan mempercantik diri, kadang menjual diripu ada. Pakai baju singset, dan kebaya serba-serbi parfum. Agama tak pernah perempuan pedulikan kecantikannya padalah agama sangat menyayangan kecantikan untuk suami sendiri. Eh ternyata setelah suami pulang tiga minggu lagi si istri wajahnya terlihat kusam, lesu.bagai pengamin tak kenal sorga. Ternyata keccantikan peremuan hanya kekosongan suami. Entah apa emang benar serbuan kebebasan perempuan seorang wanita jika haknya sama dengan laki-laki, apa hanya gara-gara lakinya si istri tidak kreatif lagi? Padahal aku tidak jarang lihat bu summi tiga anak itu kreatif ketimbang anaknya di pesantren, kalau misal berjalan dari belakang bu summi kelihatan masih perawan. Bahkan ifan sampai sekarang masih menaruh seks padanya. Tangah malam ifan mematai-matai ranjang bu summi dan aku ngerayu rang yang jaga kampung sekitar, ku kasih rokok mereka supaya mulunya ngak komentar. Aksipun damai. Ceritanya ifan tidak sempat membuka celana dalam bu summi karena CD-nya berlipat tiga, oh ternyata bu summi kreatif benar..!. ifan cuman mendaki bukit ketinggian milik bu summi yang sering membiarkan angin laut menyapanya. Aku sangat percaya cerita ini, soalnya bau bukit itu asih tersisa di tangan ifan. Seru’kan ketimbang kerja jadi imigran kadang hanya bermimpi ingin memeluk istri,seru ifan sampai ludahnya kubiarkan mencret-muncrat ke wajah.
Sekolah saja tidak ada yang menyiapkan siswa tidak berani ke malasyia. Justru peajaran ipa, ips, matematika itu hanya angka hitungan spp saja bukan menghitung berapa gaji aku kaau kerja di indonesia, atau sudah mampu masuk keraja pabrik dengan upah seayaknya. Sekaah sama saja menumpuk pengangguran.
Di sawah, masyarakat panen panjang. Orang ramai ketimbang di sekolahan, kecuai bagi perempuan yang lakinya tidak pulang di musim hujan.
”sam(panggilanku)ketimbang susah payah pergi merantau mending di desa aja jadi rang terpuruk”
”apa gila?”maksudku
”oya kan kau masalah di luar negeri tidak ada yang tanggap, mereka cuman senang mewarnai tv, tapi kalau di desa sendiri saudara kita tidak tinggal diam. Atau jika mati mayitkumasih di urus tetangga”
”bena juga fan”pikirku menjawab ide ifan yang blak-blakan.
”gimana sam aksi nanti malam, sudah siap!”
”yang penting kau jadi penegonya saja ”rayunya
”okelah kalau begitu”jawabku pasti. Rencana aksi malam terus di gencarkan bersama ifan sampai ifanpun terpikat ama janda kekasihnya. Setelah menikah ia bertbat seamanya.
***_2011
Setiap daging yang keluar dari rahim perempuan desa selalu di adzani afad imigran. Entah apa ini akan menjadi budaya di kampungku, semua orang tutup kuping!
(_antara saobi-cellong)
Samsul arifin;saobi kangean kuliah di STITA sumenep.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar